Get Gifs at CodemySpace.com

Speech

Welcome To My World!! Big fan of Justin Bieber and a Keyboardist.

“I’m telling you, people. Everyday we wake up is another blessing. Follow your dreams and don’t let anyone stop you. Never say never.”- Justin Bieber

Minggu, 15 November 2009

Lutung Kasarung

Sumber : Adobe Pdf

Putri Purbararang marah besar. Ia murka mendengar keputusan ayahandanya, Prabu Tapa Agung, yang berniat menyerahkan tahta kepada adiknya, PutriPurbasari.

“Seharusnya aku yang jadi Ratu!”

Suara Putri Purbararang melengking menyakitkan telinga. Raden Indrajaya yang sedari tadi menjadi pelampiasan amarahnya menutup telinga saat Putri Purbararang berpaling.

“Ayahanda pilih kasih, kenapa dia memilih Purbasari untuk jadi ratu? Aku tidak terima! Aku harus menghentikannya”

Kepalan tangannya menghujam meja. Sudah tiga jam Putri Purbararang uringuringan. Ia sudah memprotes di depan sidang istana, mengeluarkan dalil-dalil adat yang mengharuskan anak pertama menjadi penerus tahta. Semuanya tidak menggoyahkan keputusan ayahandanya.

“Bayangkan, ayahandaku sendiri mengatakan bahwa aku tidak dewasa. Di depan banyak orang lagi. Bah! Mereka pikir si Purbasari itu bisa apa? Anak bau kencur gitu kok!”

Ia melempar bantal ke sudut kamar dengan kesal. Sementara itu Putri Purbasari menghadap Prabu Tapa Agung di kamarnya.

“Ayahanda, bisakah ayah mempertimbangkan lagi keputusan ayah. Saya tidak ingin bertengkar dengan kakak hanya karena berebut tahta.”

Prabu Tapa Agung tersenyum. Disuruhnya Putri bungsunya untuk duduk di sampingnya.

“Kamu tahu anakku. Karena sifatmu yang penyayang itulah aku memilihmu.”

“Terima kasih, ayah. Ayah terlalu memuji. Saya khawatir ayahanda akan kecewa jika nanti saya tidak sesuai harapan ayah.”

Prabu Tapa Agung mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih.

“Kau pasti akan menjadi pemimpin yang baik dan dicintai rakyat nak!”

“Saya akan berusaha ayahanda,” janji putri Purbasari.

Prabu Tapa Agung mengangguk-angguk senang. Bak tersengat ribuan lebah, putri Purbararang menyeret tunangannya, Pangeran Indrajaya yang terseok-seok di belakangnya. Yang ditujunya adalah rumah Ni Ronde, dukun paling sakti di kerajaannya.

“Soal menyingkirkan saudaramu adalah hal yang sangat gampang. Tapi, apa imbalannya buatku. Tentunya bayarannya berbeda untuk ukuran putri raja,” suara Ni Ronde yang cempreng memenuhi ruang pengap tempat mereka duduk. Asap dupa mengepul-ngepul menyeruakan bau setan bercampur bunga busuk.

“Ini! Ini pasti lebih dari cukup.”

Putri Purbararang melemparkan kantung kecil yang berat ke hadapan Ni Ronde. Ia menyambarnya dengan tangkas. Kekehannya semakin kencang saat pundi-pundi uang emas gemerincing di tangannya.

“Baiklah. Bawa bungkusan ini. Taburkan bubuk yang ada di dalamnya ke dalam air mandinya. Dia akan berubah menjadi si buruk rupa dan tidak akan mungkin menjadi ratu lagi.”

Putri Purbararang mengambilnya lalu tanpa mengucapkan terima kasih ia melenggang ke istana.

“Aaaaaaaa....!” Jeritan putri Purbasari menggema dan membangunkan seluruh istana. Prabu Tapa Agung tergopoh-gopoh menuju kamar putrinya.

“Ada apa aaaaaa....Ada apa dengan kulitmu putriku???”

Prabu Tapak memandang horor kepada putri Purbasari. Ia tampak mengerikan sekaligus menjijikkan. Kulitnya penuh bintilan dan bertotol-totol hitam. Wajahnya yang cantik jadi tak karuan. Prabu Tapak Agung menangis bersama putrinya. Tabib-tabib terbaik dipanggil untuk mengobati penyakit putrinya. Namun sudah lebih dari sebulan belum ada yang berhasil menyembuhkannya. Bahkan tampaknya semakin parah. Putri Purbasari menjadi murung dan selalu mengurung diri di kamarnya.

“Pasti para leluhur marah karena ayahanda tidak mengikuti hukum yang berlaku. Bukankah sudah jelas bahwa anak tertualah yang harus jadi raja. Sekarang lihat saja purbasari jadi dikutuk. Jangan-jangan sebentar lagi kerajaan ini juga kena kutukan!”

Putri Purbararang berdiri berkacak pinggang di hadapan ayahandanya.

“Satu-satunya cara hanyalah ayah mencabut keputusan ayah dan memberikan tahta ini padaku!”

Prabu Tapa Agung dengan berat hati menyerahkan tahta setelah para pejabat istana mendesaknya. Rupanya mereka ketakutan kalau-kalau ucapan putrid Purbararang adalah benar. Ia juga tak berdaya mencegah keputusan putrid Purbararang untuk mengasingkan putri Purbasari ke hutan agar kerajaan terbebas dari kutukan. Putri Purbasari dengan besar hati menerima keputusan itu. Ia pergi ke hutan ditemani seorang patih yang membuatkannya sebuah pondok kecil. Di sana ia menghabiskan hari-harinya seorang diri.

Di kahyangan seorang dewa muda bernama Guru Minda melakukan kesalahan berat. Para Dewa menghukumnya untuk turun ke bumi dengan wujud seekor lutung. Kini lutung sudah mulai terbiasa dengan wujud barunya dan tempat tinggal barunya, sebuah hutan yang cantik. Ia sedang bergelantungan dari pohon ke pohon saat dilihatnya seorang gadis sedang duduk sendirian di sebuah pondok. Ia tertegun melihatnya.

“Kasihan sekali gadis itu. Ia pasti sangat cantik jika kulitnya tidak penuh bintilan seperti itu,” pikirnya.

Gadis itu rupanya menyadari kehadiran lutung. Ia tersenyum. Sejak saat itu lutung yang dipanggil si Utung itu selalu menemani putri Purbasari. Putri senang memiliki teman, apalagi lutung ternyata bisa berbicara sehingga putrid Purbasari tidak merasa kesepian.

Sebagai dewa, si Utung tidak kehilangan kesaktiannya. Ia berniat untuk menolong putri Purbasari. Diraciknya ramuan obat lalu ia tebarkan di telaga kecil tempat putri biasa mandi. Disuruhnya putri Purbasari untuk mandi.

“Berdoalah dulu kepada Tuhan untuk kesembuhanmu. Mudah-mudahan kulitmu kembali seperti sedia kala,” pesan si Utung.

Putri Purbasari mengangguk dan berterima kasih. Ia mencelupkan dirinya ke dalam telaga. Airnya sangat segar. Ia menggosok lengannya.

“Oh! Bintil dan totolnya luntur!” seru putri dengan gembira.

Si Utung tersenyum lega dari tempat ia menunggu. Dengan semangat putrid Purbasari menggosok seluruh badannya hingga kulitnya kembali putih dan mulus. Ia tampak cemerlang begitu kakinya yang jenjang menaiki pinggir telaga.

“Dia memang cantik luar biasa,” batin si Utung.

Suatu hari Patih kembali ke hutan untuk menengok putri Purbasari. Ia diutus prabu Tapak Agung untuk menengoknya. Ia terkejut dan gembira melihat putrid kini telah kembali seperti sedia kala. Ia segera menyampaikan kabar tersebut ke istana.

“Bawa dia pulang!” perintah prabu Tapa Agung.

“Apa maksud ayah? Apa ayah tidak ingat bahwa kerajaan kita akan dikutuk jika ia kembali?” putri Purbararang berkata dengan gusar.

“Dengan alasan apa? Toh kau sebagai anak pertama sudah menaiki tahta. Jadi tak ada alasan kerajaan ini akan dikutuk,” jawab prabu dengan sedikit kesal.

Sebenarnya Putri Purbararang hanya kwawatir posisinya akan terancam. Ia tahu bahwa sebagian besar pejabat istana dan juga warga tidak menyukainya. Mereka dengan senang hati pasti akan memintanya mundur untuk digantikan adiknya. Setelah berpikir sangat keras, akhirnya putri Purbararang meminta untuk diadakan sayembara. Pemenangnya akan menerima tampuk kerajaan sedangkan yang kalah harus dihukum pancung. Prabu Tapa Agung menyetujuinya. Ia yakin putri bungsunya dapat memenangkan pertandingan. Meskipun begitu, prabu Tapak Agung juga berdoa meminta Tuhan untuk melindungi putri Purbasari.

Putri Purbasari termenung mendengar tantangan kakaknya. Ia tahu kakaknya pasti akan menghalalkan segala cara untuk menang.

“Jangan khawatir putri. Kan ada aku!” Si Utung memberikan semangat.

Tibalah hari perlombaan. Kedua putri telah siap berhadapan. Perlombaan pertama adalah memasak.
Peraturannya adalah: Masakan yang paling cepat disajikan dan paling lezat adalah yang menang.

Dari awal sudah terlihat bahwa kekuatan mereka tidak seimbang. Putri Purbararang dibantu puluhan juru masak istana sementara putri Purbasari hanya ditemani si Utun. Diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun si Utung meminta bantuan para bidadari untuk membantu ia dan putri Purbasari. Setelah tanda mulai dibunyikan semua mulai bekerja. Para juru masak yang sudah terbiasa menghidangkan makanan-makanan lezat bekerja sangat cepat. Dalam setengah jam saja hidangan lengkap sudah hampir selesai. Yang mengejutkan adalah putri Purbasari. Meskipun hanya berdua, kecepatan kerja mereka tidak kalah dengan kubu kakaknya. Bahkan hidangan mereka telah siap dihidangkan sebelum setengah jam. Hanya Utung yang matanya bisa melihat puluhan bidadari ikut memotong , mengupas dan meniup api supaya pekerjaan putri Purbasari cepat rampung. Seorang bidadari menaburkan bumbu rahasia kahyangan yang akan melezatkan masakan hingga rasanya tiada tara. Para juri memutuskan putri Purbasari yang memenangkan babak pertama. Putri Purbararang dengan murka segera memecat semua juru masaknya.

Merasa tidak puas dengan hasil penilaian juri. Putri Purbararang mengganti semua juri untuk perlombaan babak kedua yaitu panjang rambut.

“Hah, sejak kecil rambutku selalu lebih panjang daripada rambutnya. Awas Purbasari! Kali ini habislah kau!” Hatinya gemuruh penuh percaya diri.

Pertama para pelayan mengurai rambut putri Purbararang dan mengukurnya. “Pas selutut!” teriak pengukur.

Rakyat saling bergumam. Sebagian besar mereka mengharapkan kemenangan putri Purbasari. Giliran putri Purbasari yang mengurai rambutnya. Semua menahan nafas ketika pelayan mengukur rambutnya yang berkilau.

“Semata kaki!” teiaknya lagi.

Rakyat bersorai sementara putri Purbararang memerah mukanya. Karena tinggi putri Purbararang dan putri Purbasari sama maka juri menyatakan putrid Purbasari kembali menang. Putri Purbararang melemparkan sisirnya dengan kesal.

Seharusnya pemenangnya sudah pasti yaitu putri Purbasari. Tapi putri Purbararang berkeras untuk tetap melaksanakan perlombaan ketiga.

“Seorang ratu haruslah memiliki pasangan yang bisa dibanggakan,” ujarnya seraya melirik pangeran Indrajaya. “Apa kata Negara tetangga jika suami ratu buruk rupanya.”

Putri Purbasari memerah. Ia tersinggung mendengar sahabatnya dihina. Si Utung menenangkannya.

“Sabar putri! Biarkan ia bahagia sejenak. Nanti kita lihat apakah setelah ini ia bisa tertawa,” ujarnya.

Putri Purbasari berusaha tenang meskipun ia tetap khawatir. Karena lomba ketiga ini adalah menentukan pasangan siapakah yang paling gagah dan tampan. Sudah jelas putri Purbararang ada di atas angin. Pangeran Indrajaya memang sangat gagah dan tampan. Sedangkan putri Purbasari tidak memiliki pasangan. Selain si Utung tentunya, yang selalu setia menemaninya. Tapi haruskah ia mengakuinya sebagai pasangannya?

“Hei Purbasari, kali ini kau kalah! Semua pasti setuju kalau pasanganku jauuuuh lebih tampan dibanding lutungmu itu hahaha…!” Putri Purbararang tertawa geli hingga keluar air mata.

Tak seorang pun yang ikut tertawa bersamanya. Rakyat tertunduk sedih membayangkan kejadian buruk yang akan menimpa putri Purbasari.

“Tunggu!”

Sebuah suara menghentikan tawa putri Purbararang. Semua mencari asal suara tersebut.

Utung berdiri tegak di kedua kakinya. Bulu-bulunya yang hitam dan lebat berkibar ditiup angin. Kelihatannya lucu, tapi tidak ada yang tertawa. Rakyat semakin sedih melihat penampilan si Utung. Dengan tenang Utung menatap putri Purbasari yang juga menatapnya dengan penasaran.

“Putri aku sudah berjanji untuk selalu menolongmu. Tapi kali ini aku tidak bisa menolongmu kecuali....” Utung menggantung kalimatnya.

“Kecuali apa Tung?” tanya putri Purbasari. “Kecuali putri menerimaku sebagai pasangan sejatimu!”

Rakyat bergemuruh tidak setuju. Putri Purbararang semakin terkikik geli. Putri Purbasari dengan tenang tersenyum dan menganggukan kepalanya.

“Tidak ada yang lebih pantas menjadi pasanganku selain kamu Tung. Di saat semua memalingkan muka karena jijik melihatku, kau satu-satunya yang mau menemaniku.”

BLARR!

Petir menggelegar di siang bolong. Putri Purbasari terpekik histeris. Sontak semua memandang ngeri ke tempat Utung berdiri. Petir itu menyambar tepat ke badan Utung yang langsung dipenuhi asap. Putri masih menjerit-jerit dan menangis berusaha menembus asap tebal yang membungkus Utung, ia terbatuk-batuk.

Keajaiban terjadi saat asap tebal perlahan-lahan menipis. Di tempat itu, berdirilah seorang pemuda yang ketampanan dan kegagahannya sulit dilukiskan kata-kata. Rakyat terpana. Putri Purbararang ternganga lebar. Putri Purbasari menatap bingung. Ia masih mencari-sisa-sisa tubuh si Utung. Mana mungkin lenyap begitu saja.

“Siapa yang kau cari putri?” tanya pemuda itu. Ia tersenyum lebar.

“U..Utung. Dimana dia?” putri terisak.

“Inilah aku...si Utung!” katanya menunjuk dirinya.

“Aa..apa? Man..mana mungkin,” putri tergagap dan semakin bingung.

“Hei pemuda tampan. Jangan main-main. Sebaiknya kau keluar dari lapangan ini. Aku akan segera menghukum pancung Purbasari karena dia telah kalah dalam perlombaan ini!” teriak putri Purbararang.

Pemuda itu tetap berdiri gagah di tengah lapangan, melindungi putri Purbasari dari jangkauan putri Purbararang.

“Baiklah aku perkenalkan diriku!” katanya. “Namaku Guru Minda. Saya adalah seorang dewa yang sedang dihukum dan diperintahkan untuk turun ke bumi. Kutukan itu akan luntur jika ada seorang gadis yang benar-benar tulus menerimaku sebagai pasangan sejatinya.”

Guru Minda berpaling kepada rakyat yang masih terpana memandangnya.

“Nah sekarang pilihlah siapakah yang lebih tampan dan gagah. Apakah pangeran Indrajaya atau aku?”

Serentak rakyat menyerukan namanya dan menunjuknya. Artinya putrid Purbasari memenangkan ketiga lomba tersebut. Putri Purbararang kalah. Rakyat berseru-seru meminta putri Purbararang dihukum pancung. Putri Purbararang terduduk lemas. Ia menangis menyesali kesombongannya. Disadarinya saat ia benar-benar tersudut, tak ada seorang pun yang sudi menolongnya.

Benarkah? Ternyata tidak. Putri Purbasari berlutu di hadapannya dan memeluknya erat.

“Aku tidak akan menghukum kakakku sendiri. Kakak boleh tetap menjadi ratu asalkan kakak berjanji akan memimpin rakyat dengan sebaik-baiknya,” ucapnya lembut.

Putri Purbararang begitu tersentuh dengan kebaikan hati adiknya.

“Kau memang sangat baik hati. Setelah semua kejahatan yang aku lakukan, kau dengan mudah memaafkanku. Kaulah yang seharusnya menjadi ratu. Aku Sekarang sadar mahkota ini lebih pantas berada di kepalamu. Maafkan aku!”

Istana begitu gemerlap hari itu. Penobatan ratu baru berlangsung meriah namun khidmat. Hari itu juga dilangsungkan pernikahan putri Purbasari dan Guru Minda. Semua senang, semua bahagia. Dan kisah ini pun berakhir bahagia.

1 komentar:

Yulita Mashita's Blog mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

Look at My Roborovsky hamster xixi

My Hamster

My Hamster

What Do You Think of My blog?

MUSIC

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info